Rabu, 19 Maret 2014

Ghazwul Fikr; Strategi Musuh Islam Menghancurkan Kaum Muslimin dari Akarnya



 
Perang pemikiran atau ghazwul Fikri adalah cara lain dari musuh-musuh Islam, diantaranya Barat, dalam menghancurkan kaum muslimin. Perang pemikiran ini berbeda dengan perang militer atau fisik. Ia lebih soft, hemat waktu dan biaya bahkan lebih efektif dari perang fisik yang banyak menguras tenaga juga biaya yang tidak sedikit.
Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi munculnya strategi ini. Pertama, sulitnya mengalahkan umat Islam secara militer. Bahkan invasi militer ini telah memakan biaya yang tidak sedikit & jatuhnya banyak korban tewas. Terbukti dengan adanya perang di Afghanistan, Iraq, Chechnya, Suriah dan sejumlah Negara muslimin lainnya. Namun mereka (Barat) tidak mampu mengalahkan dan menguasai Negara-negara tersebut. Inilah yang menyebabkan mereka mencari ‘jalan lain’ untuk melemahkan kaum muslimin.
Kedua, karena biayanya lebih rendah, mereka tidak perlu membeli tank-tank, pesawat-pesawat, amunisi. Yang mereka perlukan hanya menyebarkan ide-ide yang mereka usung keseluruh belahan dunia dengan tujuan imperialisme-kolonialisme. Ternyata, cara ini bisa melumpuhkan umat muslim sampai ke akarnya.
Mass Media dan sarana lainnya mereka manfaatkan dengan maksimal untuk mengampanyekan pemikiran dan ide busuk mereka supaya terlihat indah dan menawan.
Ketiga, karena lebih mudah dilakukan berkat bantuan kaki tangan mereka dari kalangan munafiqin.
Keduanya berkolaborasi menyebarkan virus pemikiran yang sesat tersebut dan memolesnya dengan slogan-slogan menawan, seperti kebebasan berpikir, toleransi, HAM, dan selainnya.
Keempat,  memiliki hasil yang lebih memuaskan untuk melanggengkan penjajahan terhadap dunia Islam. Pemimpin-pemimpin negeri muslim yang berkiblat pada Barat dengan mudah dikontrol oleh mereka, bahkan menjadi boneka mereka yang menjalankan pemerintahan  di bawah perintah asing. Inilah yang melanggengkan cengkeraman barat di dunia islam.
Ada beberapa langkah dan strategi yang mereka jalankan dalam menjalankan projek ghazwul fikri:
Pertama, mendangkalkan Aqidah hingga pemurtadan. Jika tujuan ini berhasil, banyak nya muslim yang murtad mereka berpandangan umat akan menjadi lemah dalam segi kuantitas.
Kedua, menumbuhkan keraguan terhadap ajaran islam. Yaitu dengan mengacak-acak syari’at Islam. Mereka menyebut syari’at islam sudah tertinggal oleh jaman tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan sekarang, hukum potong tangan, rajam, jilid dsb-nya tidak manusiawi dan melanggar HAM.
Ketiga, mereka menciptakan sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan). Mereka berpendapat Agama tidak perlu dibawa-bawa dalam aktifitas keseharian terkhusus dalam hal pemerintahan.
Keempat, menumbuhkan Islamphobia baik pada kalangan (umat) Islam maupun  kalangan non-islam. Mereka menciptakan ide ‘Perang melawan Teroris’ yang hakikatnya perang melawan pejuang Islam untuk menegakkan Kalimatullah. Mereka mencitrakan para Aktifis dakwah sebagai teroris dan berbahaya
Kelima, merusak moral kaum muslimin. Mereka merusak moral kaum muslimin dengan cara “memperkenalkan” pergaulan bebas, Clubbing, free sex, lagu-lagu cengeng tentang cinta, budaya pacaran dan segudang aktifitas lainnya yang banyak dilakukan kaum muslimin sekarang ini khususnya generasi muda
Keenam, memecah belah persatuan umat islam. Salah satunya dengan mengelompokkan kaum muslimin kepada, Islam Radikal atau Islam Fundamentalis, Tradisionalis dan Islam moderat.
ketujuh, melanggengkan kolonialisme baru di tengah-tengah dunia islam. Mereka menjajah, merampas kekayaan negeri-negeri muslim untuk kepentingan negara mereka. Mereka “membeli” orang-orang yang berpengaruh dalam negerinya untuk dijadikan antek mereka. Dengan cara seperti itu mereka dapat mengendalikan negeri kaum muslimin karena para penguasanya telah mereka “kuasai”.
Kita sebagai umat harus selalu waspada. Perkuat barisan dan ukhuwah, terus tambah keilmuan kita untuk menangkal dan melawan perang pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Wallahu’alam. [PurWD/voa-islam.com]
  • Penulis: Muharram Al Hakim (Mahasiswa STAI Al Hidayah Bogor Fak. Syari’ah)
  • Editor: Badrul Tamam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar