Jumat, 20 Desember 2013

KESAKSIAN PEMANDI JENAZAH, MATINYA ORANG YANG MENONTON FILM PORNO



KESAKSIAN PEMANDI JENAZAH (2)
MATINYA ORANG YANG MENONTON FILM PORNO

Kisah ini wahai saudara, tentang seorang pemuda yang ditolak oleh ayahnya sendiri untuk dishalatkan setelah melaksanakan shalat fardhu berjamaah di masjid. Anda bisa membayangkan wahai saudara, seorang ayah menolak menshalatkan anaknya setelah shalat fardhu, yaitu setelah shalat subuh. Padahal kebanyakan orang tentu ingin menshalatkan jenazah setelah shalat fardhu, bahkan mengutamakan memilih masjid yang besar, karena banyaknya jamaah yang shalat agar si mayat mendapatkan banyak pahala dan doa dari mereka.
                Jadi bagaimana kisah pemuda ini? Pada suatu sore, ketika saya sedang bekerja, hp-ku berbunyi. Orang yang menelpon lalu berkata kepadaku, “Anakku meninggal di rumah kami pak. Saya ingin engkau datang untuk mengurusnya agar kita menshalatkannya dan menguburkannya!” pintanya.
“Beri aku alamat lengkapnya!” jawabku.
                Anda tahu wahai saudara, jika terjadi kematian di setiap daerah maka jalan raya di daerah itu tidak tenang, semua tetangga mendatangi rumah orang yang meninggal untuk berada disamping keluarganya agar dapat meringankan beban dan kesedihan mereka. Aku kemudian pergi ke alamat tersebut. Aku menghubungi ayah pemuda itu dan aku berkata, “Saya berada di alamat yang dimaksud, tetapi tidak ada orang.”
                Dia memberitahukan kepadaku bahwa dia akan turun menemuiku. Ternyata dia turun dari apartemen tempat aku berdiri di bawahnya. Aku lalu bertanya, “Dimana anakmu?”
                “Di balkon rumahku pak!” jawabnya.
                Ternyata ayah dari pemuda ini telah menyiapkan untuk anaknya apa yang diperlukan. Itu karena dia khawatir ada temannya dari luar yang ikut campur mengurusi jenazah anaknya. Ketika aku masuk, aku melihat pemuda itu yang ternyata masih berumur sembilan belas tahun dan terbentang di atas tempat tidur dalam keadaan tertutup. Aku membuka kain penutupnya, ternyata dia masih memakai baju olah raga. Aku dapatkan tangan kanannya diikat oleh perban putih dan darahnya mengalir di tangannya. Aku lalu bertanya kepada ayahnya tentang apa yang terjadi ?
                Dia menjawab, “Ada sebuah peristiwa yang terjadi!”
                “Mau dimandikan dan diurus di mana?” tanyaku.
                “Di balkon saja pak!. Ada tempat untuk mencuci pakaian dan aku sudah menyiapkan keperluannya untuk mandi dan kain kafannya!” jawab sang ayah.
                “Ambillah dan letakkan di sini bajunya!” pintaku.
Kebutuhan mandi dan kain kafan telah dipersiapkan. Aku berkata kepada mereka, “Ambil dan letakkan di sini di atas kayu pemandian seperti biasa!” Aku kemudian meletakkan tabir dan melepaskan pakaiannya. Aku membersihkan lubang anusnya dan mewudhukannya dengan wudhu shalat yang sempurna. Ketika aku mengangkat tangan kanannya untuk berwudhu aku menemukan tangannya diikat perban dan diatasnya terdapat bekas darah yang mengalir dari jarinya.
                Aku ingin melepas kain perban di lilitan tangannya, membersihkannya dari darah, dan menghentikan darah yang terus mengalir itu. Ternyata ayahnya berbisik kepadaku dan berkata, “Biarkan seperti itu pak!”
                Aku bertanya kepadanya, “Pak, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Tangannya mengucurkan darah. Biarkan saya yang membersihkan luka itu dan meletakkan di atas luka itu daun bidara untuk menghentikan darahnya, kemudian kita letakkan perekat di atasnya, lalu kita usap dengan air diatasnya. Namun ternyata ayahnya terus memohon kepadaku agar aku memandikannya dengan tidak melepaskan kain perban yang diikat di tangan kanannya.
                Ketika kami sedang berdiskusi seperti ini, tiba-tiba ibu pemuda itu masuk dari ruangan sebelah dengan wajahnya terbuka. Dia datang kepadaku dan ingin mencium kedua tanganku, lalu berkata, “Pak, tutuplah rahasia ini untuk anakku, semoga Allah menutupi rahasiamu. Kemudian ayah dari pemuda itu mengambil kain lalu menutupkan ke wajahnya dan mendorongnya masuk ke ruangan dimana dia keluar dan berkata kepadanya, “Bapak tidak tahu apa-apa tentang anak ini.”
                Wahai saudaraku, ucapan itu menunjukkan ada sesuatu yang dirahasiakan. Namun aku terus meminta untuk membuka kain perban itu dan membersihkan lukanya, sedangkan mereka terus meminta memandikannya dengan perban membalut tangannya, tanpa dibuka. Apa yang aku lakukan wahai saudara? Ketika aku mewudhukan aku merasakan beratnya air di atas tangannya, karena perban itu telah menyerap air. Aku membiarkannya, dan aku tetap di kayu pemandian dan mengeluarkan sesuatu dari tangannya yang jatuh di tanah. Aku melihat ke tangan kanannya. Aku mendapatkannya penuh dengan darah, sedang tangan itu memegang sesuatu yang berwarna hitam. Apa yang kau temukan wahai saudara? Apakah sesuatu ini wahai saudara?
                Sesuatu ini ternyata potongan dari remot kontrol untuk merubah canel televisi. Pemuda itu memegang remot itu di tangan kanannya. Ayah dan saudaranya berusaha mengeluarkan sesuatu itu dari tangannya, tetapi tidak bisa, kecuali dengan menghancurkan satu atau dua jarinya agar bisa mengeluarkannya. Mereka lalu menghancurkan tulang jari mayat itu seperti hancurnya tulang dalam keadaan dia hidup. Mereka membawa gergaji besi kecil kemudian memotong remot itu dari atas dan berusaha menyebarkan bagian yang lebih besar darinya sehingga tidak nampak bekasnya. Mereka lalu melukai tangannya dari atas sampai ke bawah, dan tinggallah potongan yang tersisa di tangannya, tetapi mereka tidak tetap bisa mengeluarkan remot itu dari genggamannya. Aku berkata kepada ayahnya, “Apa yang terjadi kepadanya dan bagaimana itu bisa terjadi?”
                Ayahnya berkata, “Kita urus dan shalatkan dia, kemudian kita kuburkan. Nanti aku akan memberitahu apa yang telah terjadi.”
                “Tidak, anda harus memberitahukan kepadaku sekarang!” pintaku.
                Ayahnya lalu berkata, “Tadi malam, kami semua  sedang makan malam. Kami duduk di hadapan hidangan makan malam, lalu anakku masuk dengan cepat ke rumah dan menuju kamarnya. Aku memanggilnya, “Wahai fulan, mari kita makan malam bersama-sama! Fulan, kemarilah bersama kita semua!”
                Namun dia menjawab, “Aku tidak lapar sekarang. Antarkan saja makan malam untukku pembantu!” Setelah jam dua belas malam, pembantunya naik membawa makanan sebagaimana yang diminta oleh pemuda itu. Ketika pembantunya mengetok pintu agar dia makan malam, ternyata dia tidak menjawab suara ketokan pintu dari sang pembantu. Maka dia pun memanggil namanya, tetapi sang pemuda tidak menjawab juga. Yang terdengar hanya suara televisi dari kamarnya. Pembantu itu langsung turun dengan cepat dan mendatangi kedua orang tuanya, lalu memberitahukan kepada mereka apa yang terjadi.
                Ayah bersama dengan anak-anaknya kemudian naik dan melakukan apa yang dilakukan pembantu, tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Di balkon ada jendela kaca yang membuat kami bisa melihatnya. Kami menemukannya berbaring di atas tempat tidur, dan kami berusaha lagi memanggilnya, tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Maka kami mendobrak pintu itu dan masuk ke dalam kamar. Kami menemukannya sudah meninggal dunia pada saat dia menonton televisi. Tetapi apa yang ditonton sebelum dia meninggal? Malaikat maut datang mengambil rohnya ketika dia sedang menonton film porno. Dia yakin, bahwa dengan menutup pintu tidak akan dilihat orang. Dia lupa, bahwa Allah melihatnya. Malaikat kemudian datang ketika dia sedang melihat apa yang diharamkan Allah. Lihatlah wahai saudara bagaimana akhir hayat pemuda ini.
                Aku memandikan dan mengkafaninya, sedang tangannya memegang sisa remot kontrol, ini bukan kejadian yang pertama. Salah seorang Syaikh pernah menceritakan, bahwa beliau menemukan mayat yang tangannya sedang memegang erat remot kontrol. Ketika sedang khutbah di salah satu masjid yang terkenal,  seorang imam menyebutkan, bahwa dia pernah memandikan mayat yang tangannya sedang memegang erat sebungkus rokok. Dia berusaha mengeluarkannya dengan susah payah, dengan cara merendamnya ke dalam air, lalu memasukkan benda keras untuk mengeluarkan rokok itu, sampai bungkus rokok itu keluar dari tangannya. Tetapi jari-jemarinya terlipat dengan kuat di telapak tangannya.
                Setelah aku selesai mengurusnya, aku menoleh ke belakang. Aku melihat ayah dan saudara-saudaranya berbisik-bisik. Aku berkata kepada mereka, “Ada apa? Mari kita bawa dan letakkan di mobil agar kita pergi dan menshalatkannya setelah shalat subuh. Masih banyak waktu sebelum adzan subuh.”
                “Pak, aku tidak ingin menshalatkan anakku sekarang!” kata sang ayah.
“Mengapa pak?” tanyaku.
“Cukup pak! Dia sudah melakukan kejahatan di dunia ini, bagaimana nanti di akhirat?” jawabnya.
Aku berkata, “Wahai saudaraku, bertaqwalah kepada Allah ! kamu tidak sayang kepadanya melebihi kasih sayang Allah. Berdo’alah kepada Allah, semoga Allah menyayangi anakmu dan mengampuninya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Biarkan kami menshalatkannya di masjid, semoga ada orang yang ikut menshalatkan dan mengangkat tangannya kepada Allah, lalu berdo‘a untuk anakmu agar Allah memberi rahmat dan ampunan kepadanya, kemudian Allah mengabulkannya.”
Tetapi ayahnya menolak. Usahaku tidak berhasil. Aku menoleh ke pamannya, dan dia diam. Demikian juga saudaranya. Semuanya sefakat seperti ayahnya. Maka aku pulang dari rumah itu. Aku gelisah dan heran apa yang telah terjadi. Ayahnya lalu datang kepadaku dan berkata, “Kami akan menshalatkannya pak, tetapi bukan setelah shalat fardhu.” Aku berkata, “Saya tidak bisa membawa anakmu ke kuburan saat ini, kecuali jika engkau mau menshalatkannya setelah shalat fardhu. Sebagaimana yang kita ketahui wahai saudara, bahwa shalat jenazah kapan saja diperbolehkan, tetapi lebih diutamakan setelah shalat fardhu karena banyaknya orang yang akan menshalatkannya.
Aku lalu meninggalkan mereka  dan pergi ke tempat kerjaku. Keesokan harinya sekitar jam sembilan pagi, mereka membawa jenazah dan meletakkannya di mobil jip, kemudian pergi ke salah satu pekuburan. Mereka menshalatkannya bersama orang yang menemaninya dan para penjaga kuburan. Pemuda ini dikuburkan dengan remot kontrol di tangannya. La haula wala quwwata illabillah. Aku memohon kepada Allah semoga aku dan anda semua mendapatkan karunia husnul khatimah di dunia dan akhirat.

o0=0o

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar