Rabu, 10 Juli 2013

Bag 1. Mendapat Hidayah Allah

Lagi.. sebuah kisah nyata yang terjadi di pedalaman Pulau Kalimantan, tepatnya di Desa Setekam Kecamatan Ketungau Hilir Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan barat. Seorang pemuda suku dayak yang mendapat hidayah dari Allah dimana beliau mengalami mati suri/perjalanan ruh ke alam barzah hingga dia masuk islam. Admin sendiri sewaktu berkunjung ke Kapuas Hulu Kalimantan Barat sudah pernah bertemu beliau (Sabran Qamaruddin) sewaktu beliau ceramah di salah satu Masjid di kapuas hulu Kalbar. Berikut ceritanya yang saya ambil dari buku tulisan beliau sendiri yang berjudul "Mendapat Hidayah dari Allah".




BAB I
PENDAHULUAN
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, serta selawat dan salam kepada Nabi junjungan kita Muhammad SAW, bahwa diri saya telah mendapat rahmat dan hidayah dari Allah SWT, proses hidayah tersebut selama tiga hari tiga malam dimana jasad saya bagaikan sudah mati yang sedang ditunggui sanak keluarga, hanya menunggu detak jantung nadi saya sampai berhenti baru akan dikuburkan.
Alhamdulillah dalam keadaan begitu dengan kodrat Allah SWT, roh saya dibawa bersama Nabi Muhammad SAW, berjalan menyaksikan bermacam-macam pemandangan baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, berupa keindahan-keindahan alam yang luar biasa dan siksaan-siksaan yang sangat mengerikan yang ditimpakan kepada umat manusia sejak dahulu hingga sekarang (umat Nabi Muhammad SAW), dimana, semua yang saya lihat harus saya sampaikan kepada umat manusia yang memerlukan terutama umat islam supaya yang percaya makin bertambah imannya. Kejadian tersebut terjadi pada tanggal 5 Oktober 1989 di Desa Setekam Kecamatan Ketungau Hilir Kabupaten Sintang Provinsi Kalimatan Barat (Kalbar).
Ajaran Khatolik saya ikuti sampai tamat SD dan saya laksanakan setiap hari minggu ke Gereja. Tamat SD saya lanjutkan ke SMP di Ketungau Hilir, tamat SMP tahun 1982 saya meneruskan ke SMA Pancasetya di Sintang menumpang di rumah Pastor. Selama di Sintang ajaran agama Khatolik makin saya tekuni bahkan saya berniat akan jadi Bruder, niat saya didukung oleh Pastor. Setelah tamat SMA tahun 1985, saya dikursuskan sebagai Penginjil pada tahun 1986 di Vatikan / Roma selama 1 (satu) tahun. Sepulang dari kursus saya semakin giat menyiarkan agama Khatolik. Sebagai imbalannya saya diberi honor dua ratus lima puluh ribu rupiah per bulan dengan tugas sebagai Bruder di wilayah Ketungau Hilir, Tengah dan Ketungau Hulu, saya telah meng-agamakan orang Dayak yang belum beragama kira-kira 8.382 orang, disamping membina, saya juga berupaya terus menambah umat Khatolik.
Setelah masuk islam, saya sangat menyesal atas perbuatan saya pada masa lampau. Oleh karena itu saya bertekad untuk selalu mendakwahkan agama islam kepada umat islam khususnya dan kepada orang yang belum beragama dan lebih khusus lagi saya akan membina keluarga saya yang telah memeluk agama islam termasuk abang kandung saya sendiri (Juma‘) dan 9 (sembilan) orang yang sampai sekarang masih tetap islam.

BAB II
K E R A G U A N
    Menurut  ajaran agama Khatolik bahwa dosa dapat diampuni melalui sesama manusia dinilai dari uangnya, banyak dosanya banyak pula pembayarannya, kecil dosanya kecil pula pembayarannya.
    Saya sebagai Bruder tidak diperbolehkan untuk kawin padahal saya sebagai manusia normal ingin kawin / nikah. Keragu-raguan saya timbul selama saya bertugas, namun tidak saya utarakan sehingga tidak ada yang mengetahuinya. Kemudian keraguan kenapa Tuha ada tiga, karena menurut pemikiran saya seandainya Tuhan itu tiga, dunia ini akan menjadi kacau balau disebabkan ada  tiga Tuhan yang berkuasa, dimana ketiga Tuhan tersebut punya kehendak dan peraturan yang berbeda-beda, pertama Tuhan anak/Yesus, kedua Tuhan Bapak, ketiga Bunda Maria.
    Sesudah saya bertugas selama tiga tahun, saya akan diberangkatkan lagi ke Vatikan / Roma, namun seminggu sebelum berangkat saya mengalami sakit lebih kurang 1 (satu) tahun. Di dalam sakit itulah saya mendapat hidayah dari Allah SWT untuk masuk islam.


BAB III
SILSILAH KETURUNAN
Nama Lengkap saya SABRAN lahir tanggal 5 Maret 1965 di Desa Setekam Kecamatan Ketungau Hilir Kabupaten Sintang Kal-Bar. Saya dilahirkan di kalangan orang yang tidak beragama, sehingga Nenek Moyang saya menggunakan ajaran Animisme. Nama orang Tua saya yang laki-laki SINA‘AN sedangkan ibu saya bernama JIDUN dan kami lima bersaudara.
1. JUMA / laki-laki
2. PANTAS / laki-laki
3. MANJUN / perempuan
4. SABRAN / laki-laki
5. SUATU / laki-laki.

Sebagai orang desa saya hidup ditengah-tengah keluarga yang sangat sederhana, dan dimasa layaknya anak untuk mengenyam pendidikan maka saya dimasukkan ke SD di Setekam oleh orang tua saya. Oleh guru saya diajari ajaran agama Khatolik dan dimandikan serta diberi nama YUS ANDIKA maka resmilah saya sebagai umat Kristen / Khatolik. Menurut ajaran Injil bahwa yang laki-laki maupun perempuan kalau mau berdo ‘a terlebih dahulu memberi ucapan tanda salip yaitu : “ atas nama Bapa dan putra roh Kudus”  Amin. Yang kedua menurut ajaran Kristen / Khatolik laki-laki maupun perempuan kalau mau berkalung, kalung tanda salip, itulah tanda orang Nasrani.

BAB IV
MENGAPA SAYA MEMILIH ISLAM
    Karena mendapat hidayah dari Allah SWT, pada awalnya saya sakit yang sangat mengkhawatirkan selama kurang lebih satu tahun. Diakhir sakit saya mengalami antara hidup dan mati selama tiga hari tiga malam, waktu itulah saya mendapat hidayah dari Allah SWT.
    Pada awal hidayah, saya rasanya berbaring di padang yang sangat luas dengan rumput yang hijau, tidak satupun hamba Allah maupun pohon-pohon kayu terletak di atasnya. Didalam pembaringan saya mendengar suara orang memanggil nama saya Sabran.....Sabran.....kau jangan terkejut, saya datang untuk menolong kamu, kemudian saya menoleh/menengok ke arah suara itu dan melihat seseorang yang bercahaya seperti bintang jatuh dari langit, mula-mula mendekati saya dan berdiri di sebelah saya kemudian orang tersebut berkata, Sabran..kau ikut saya berjalan. Saya menjawab tidak bisa berjalan karena sakit sudah satu tahun lamanya.
    Orang itu mengatakan kalau mau sembuh, kamu harus berjanji masuk islam dan penyakitmu akan sembuh. Kemudian saya diperintahkan duduk, lalu pinggang saya dipegang oleh orang tersebut dengan seketika sakit pinggang saya hilang. Herannya tangan orang tersebut ada tetapi kalau dipegang tidak terasa, orang tersebut memakai pakaian serban hijau dan jubah hijau, waktu berdiri kepala saya pas sampai di bahu orang tersebut. Sehingga tidak bisa memandang wajah orang tersebut dan leher saya rasanya kaku tidak bisa digerakkan. Setelah itu saya diajaknya berjalan dan saya disuruh memegang jubahnya.
    Dalam perjalanan saya bertanya : Bapak ini siapa? Orang tersebut menjawab, Sabran ! Akulah Nabi Muhammad dan sampaikan kepada umatku orang islam bahwa engkau pernah berjalan bersamaku Nabi Muhammad dan mengislamkan engkau.
    Dalam perjalanan, Nabi Muhammad tidak mempunyai bayangan maka sesuailah kalau Nabi tidak bisa digambarkan/ dibayangkan, karena kalau Nabi bisa digambarkan, maka terjadilah dalam kamar ada patung Nabi, di ruang tamu patungnya Nabi, dalam mobil patungnya Nabi, maka jadilah ber-Tuhankan Nabi, Nauzubillah...
    Dalam suatu perjalanan saya melihat sebuah kebun pisang, di tengah padang yang sangat luas tidak ada satupun pisang yang berbuah, kemudian ada lagi orang yang hidup di dalam kandang itu. Ada kandang yang bisa untuk berbaring, ada kandang yang bisa untuk duduk, ada juga kandang yang bisa untuk berdiri, dan ada juga rumah seperti rumah atau gedung.
    Dalam perjalanan saya bertanya kepada Nabi, siapakah orang-orang itu, nabi menjawab : itulah orang-orang yang berada di alam kubur. Kemudian ada lagi seorang yang jatuh dari langit, mendekat dan berkapan kain putih langsung jatuh dalam kandang yang tidak ada orangnya, setelah itu saya mendengar suara dari atas seperti membaca Talkin, Zikir, Tasbih dan Tahlil, suaranya yang terakhir membacakan Laailahaaillallah....yang semerdu-merdunya.
    Setelah itu saya perhatikan orang tadi lalu duduk dan membuka kain kafannya sambil ia memegang sisi kain putih yang dipakai untuk mengafankannya. Lalu ia mengucapkan Astaghfirullahhal adzim...ia baru tahu bahwa dirinya sudah meninggal dunia dan kain tersebut disimpan disampingnya, lalu saya tanyakan kepada Nabi, Nabi berkata itulah orang yang baru pulang ke rahmatullah.Sampaikan kata Nabi dengan umatku kalau mengerjakan orang mati, ikatan kain kafannya jangan disimpul mati / diikat mati. Karena akan menyakitkan si mati untuk melepasnya.
    Belum lama kemudian ada lagi orang datang dari hadapan si mati dengan tubuhnya yang hancur luluh berantakan (berbau busuk), kata Nabi itulah penjelmaan amalan seorang islam yang baru meninggal, maka yang mati tadi bertanya kepada orang tersebut. Hai Pulan! kau mau kemana? Si busuk menjawab, akulah amal perbuatanmu di dunia karena semasa hidupmu tidak pernah beramal yang baik, kau perhatikan badanku hancur luluh berantakan. Akulah penjelmaan kejahatanmu selama di dunia.
    Setelah itu saya melihat si amal itu datang membawa segelas minuman yang mana gelas itu penuh dengan darah dan nanah langsung diminumkan pada si mati itu, si mati berkata, saya tidak mau minum air ini, maka si busuk tadi mengatakan mau atau tidak harus diminum, karena inilah yang bisa saya dapat, karena kamu belum pernah bersedekah kepada orang miskin. Di dalam kubur saya perhatikan bahwa tidak ada satupun yang bisa menolong selain amal perbuatan kita sendiri.
    Belum lama berselang ada orang datang dengantubuh besar tinggi, maka saya tanyakan lagi kepada Nabi, maka Nabi mengatakan itulah malaikat Mungkar Nakir, sedang menanyakan orang mati tersebut bahwa adakah amal perbuatannya yang baik ? serta dengan beberapa pertanyaan lainnya seperti :
1.  Siapa Tuhanmu ? yang ditanya tidak bisa menjawab, amalnya mengatakan tidak tahu karena selama ia hidup di dunia tidak pernah menyebut nama Allah hingga amal tidak bisa menjawab “Allah Tuhanku”
2. Apakah agamamu ? amalnya menjawab tidak tahu, sedangkan yang meninggal mengetahui islam agamaku tetapi waktu hidup di dunia belum pernah mengamalkan agama islam.
3. Apakah Kitabmu ? amalnya menjawab tidak tahu, sedangkan kita tahu bahwa Al Qur‘an kitabnya tapi sayang sewaktu hidup di dunia belum pernah membaca Al Qur ‘an atau mengaji.
4. Siapakah Nabimu ?  amalnya menjawab tidak tahu, sedangkan yang meninggal tahu bahwa Muhammad Nabiku, tapi sayang semasa hidupnya di dunia belum pernah berselawat dengan Beliau.
5. Dimanakah Kiblatmu ? amalnya menjawab tidak tahu, sedangkan kita tahu bahwa Ka‘bah kiblatku, tapi sayang pada waktu kamu hidup di dunia belum pernah mengerjakan sholat.
6. Siapakah saudaramu ? amalnya menjawab tidak tahu, sedangkan kita sendiri tahu bahwa islam saudaraku, tapi sayang waktu kamu hidup di dunia belum pernah bersaudara dengan orang-orang islam dan selalu iri dan dengki. Maka orang yang meninggal tadi menjadi sakit hati, mengapa amal tidak bisa menjawab pertanyaan, sedangkan si mati tahu, tapi mulutnya terkunci lidahnya kaku akhirnya cuma amal yang menjawab segala pertanyaan Mungkar Nakir. Mengapa si mati itu sakit hati..karena semasa hidup di dunia si mati tadi pernah menyakiti hati orang, begitulah kata Nabi.
    Selanjutnya Nabi mengajak saya berjalan dan saya melihat anak kecil semuanya, dan anak-anak itu mengelilingi pohon-pohon kayu, tetapi satupun tidak ada orang tuanya. Saya bertanya kepada Nabi , mana orang tua si anak tersebut, Nabi menjawab, itulah anak orang islam yang meninggal masih bayi, mereka tidak pergi kemana-mana, mereka menunggu kedatangan orangtuanya dan langsung ke Syurga. Kemudian Nabi mengatakan itulah daun-daun kayu, itu adalah kayu Thobi dan manusia yang hidup di dunia, nama-namanya sudah berada/tertulis di daun itu, maka kalau daun itu layu atau kuning kita mulai sakit yang mengkhawatirkan, berobat kemana-mana tidak akan sembuh. Dan daun itu gugur, kemudian malaikat maut diperintah oleh Allah SWT untuk mencabut nyawa manusia yang namanya tercantum di daun yang gugur itu, sehingga tidak dapat diundur barang satu detikpun.      Bersambung...
   

   
     
     
   


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar