Sabtu, 22 Maret 2014

Dialog antara Pembela Tauhid & Anshar Toghut, Siapakah Takfiri?


Rabu, 19 Jumadil Awwal 1435 H / 1 Januari 2014 21:28 wib

بسم الله الرحمن الرحيم

Dialog antara Pembela Tauhid dengan Aparat Thaghut

Siapakah Golongan yang Gemar ‘Mengkafirkan’ (Takfiri)?
Oleh: Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al-Maqdisi
Alih Bahasa: Ganna Pryadha
  
Salah seorang penyidik di kantor General Intelligence Directorate (Direktorat Intelijen Umum) Yordania menemui saya (Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al-Maqdisi, Penj.) 
* Dia lantas bertanya, “Apakah Anda golongan takfiri (gemar mengkafirkan)?”
* Saya (Syaikh) pun balik bertanya, “Apa maksudnya takfiri?!”
* Penyidik: “Suka mengkafirkan manusia!”
* Syaikh: “Jika yang Anda maksud dari ‘manusia’ adalah kaum muslimin, maka saya tidak mengkafirkan ‘manusia’. Saya justru mengkafirkan orang-orang yang gemar membuat manusia menjadi kafir.”
* Penyidik: “Bagaimana maksudnya?”
* Syaikh: “Sederhana saja. Dengan kekuatan kalian dan kekuatan pihak-pihak yang kalian angkat sebagai mitra penolong kalian; baik pihak Amerika dan lain sebagainya, kalian senantiasa berusaha sekuat tenaga menghalangi kaum muslimin untuk bisa berhukum dengan syariat Allah. Bahkan, kalian memerangi dan berkonspirasi bersama mereka beserta para pemerintahan bangsa Arab dan pemerintahan asing lainnya untuk menjegal siapa saja yang berupaya untuk berhukum dengan Syariat Allah. Kemudian kalian memaksa manusia agar mematuhi segenap undang-undang (UU) dan peraturan buatan kalian yang bertentangan dengan syariat Allah. Kalian memaksa manusia agar berhukum dengan UU positif. Dengan demikian, kalian sama saja memaksa manusia agar menjadi kafir. Sedangkan kami berusaha sekuat tenaga mencegah manusia agar tidak jatuh ke dalam jurang kekafiran yang kalian ciptakan. Bahkan kami harus membayar ‘ongkos’ mahal atas upaya-upaya yang kalian lakukan untuk membuat manusia menjadi kafir; melalui umur kami yang hilang di tiang-tiang gantungan, di penjara-penjara, dan di ruang-ruang penyiksaan.”
* Penyidik: “Itu tidak benar. Kami tidak pernah memaksa manusia untuk menjadi kafir.”
* Syaikh: “Kenapa tidak benar?! Bukankah UU positif kalian membolehkan riba dan memperkenankan orang-orang mengonsumsi riba?! Bukankah UU kalian membolehkan minuman keras, serta memperkenankan orang-orang untuk mengonsumsinya?! Bukankah UU kalian melarang dan melakukan kriminalisasi terhadap kaum muslimim yang berjihad fi sabilillah melawan kaum Yahudi dan Salibis; para penjajah negeri-negeri kaum muslimin?! Bukankah UU kalian melarang kaum muslimin untuk berhukum dengan syariat Allah, dan melarang mereka menganulir UU positif, serta bahkan kalian bahkan menganggap mereka sebagai pelaku kriminal dan teroris?! Bukankah UU kalian membolehkan ateisme, tindak kekafiran, dan zina atas nama kebebasan berekspresi dan dalih-dalih lainnya?! Dengan demikian, orang-orang yang menerima, mendukung, dan membela UU tersebut, adalah orang-orang yang kalian paksa untuk menjadi kafir. Dan mereka yang tidak rela kepada UU tersebut, maka kalian akan memaksa mereka agar mematuhi dan menerimanya, baik melalui cara persuasif maupun kekerasan. Lalu jika ada orang yang menentang kalian atas UU positif tersebut, maka kalian akan memenjarakan dan membunuhnya. Renungkanlah hal tersebut!
Bukankah keadaan kalian tidak berbeda dengan golongan yang telah disebutkan Allah di dalam Al-Quran: “Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya,” (Saba`: 33) Allah juga berfirman, “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka,” (An-Nisaa`: 89) Dengan demikian, kami tidaklah mengkafirkan manusia. Bahkan kami justru berusaha untuk menyelamatkan mereka dari proses usaha kalian yang ingin membuat mereka kafir.”
* Penyidik: “Kami tidak pernah menyuruh manusia untuk mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah.”
* Syaikh: “Kalian justru telah melakoninya. Namun permasalahannya, kalian mengira bahwa makna ‘tandingan’ hanyalah berupa batu-batu berhala semata. Kalau saja Anda tahu, Al-Quran menerangkan bahwa ‘tandingan-tandingan’ Allah pun bisa berwujud sosok manusia.”
* Penyidik: “Mana di dalam Al-Quran yang menerangkan bahwa ‘tandingan’ Allah bisa berupa manusia?”
* Syaikh: “Sangat banyak. Bukankah Allah berfirman, “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syuura: 21) Di ayat ini, siapakah yang mensyariatkan? Manusia atau batu berhala? Allah juga berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan,” (At-Taubah: 31)
Terkait ayat ini, terdapat satu hadits shahih melalui sejumlah jalur periwayatan, yang mana di dalamnya Nabi Muhammad menegaskan bahwa ketaatan kepada para rahib dalam syariat (baca: UU) yang tidak diizinkan Allah adalah suatu bentuk peribadatan mereka. Dengan demikian, mereka telah mengangkat sejumlah rabb (pengatur/legislator) selain Allah. Allah berfirman lagi, “Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik,” (Al-An’am: 121) Sebab turunnya ayat ini; adalah ketika ketaatan setan terhadap setan-setan lainnya dari golongan manusia atau jin dalam satu persoalan penetapan hukum (tasyri’) yang tidak diizinkan Allah. Tindakan seperti ini adalah sebuah kesyirikan dan sama saja mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah. Ayat-ayat seperti ini sangatlah banyak.”
* Penyidik: “Jadi, Anda memvonis saya masuk neraka?!
* Syaikh: “Saya tidak akan pernah memvonis Anda masuk neraka, kecuali jika Anda memang mati dalam kondisi melakoni profesi Anda saat ini.”
* Penyidik: “Maksudnya; jika saya mati sebagai pegawai dinas intelijen, maka saya masuk neraka?!
* Syaikh: “Ya. Saya meyakini bahwa apabila Anda mati sebagai pegawai dinas intelijen, Anda tidak bertaubat dan tidak meninggalkan profesi tersebut sebelum meninggal dunia, maka Anda akan kekal di Neraka Jahanam. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah,” (An-Nisaa`: 167-169) Allah berfirman lagi, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun,” (Al-Maa`idah: 72)
* Penyidik: “Berarti Anda seenaknya membagi-bagi manusia mana yang masuk surga dan mana yang masuk neraka?!”
* Syaikh: “Tidak begitu. Saya tidak membagi-bagi mereka, dan saya tidak melakukan intervensi untuk membagi mereka antara surga dan neraka. Tapi kalian tahu sendiri bahwa kalian memerangi agama Allah, kalian mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong dan pembela kalian, lalu kalian menentang syariat-Nya, memaksakan manusia agar mematuhi UU positif buatan kalian, maka dengan demikian kalian sama saja menggiring diri kalian menuju neraka. Kalian juga sama saja menggiring para penolong dan pembela kalian untuk ikut masuk neraka. Allah berfirman, “kepada Fir'aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi,” (Huud: 97-98)
Allah juga berfirman, “Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran,” (Al-Baqarah: 221)
Terakhir, saya ingin katakan kepada Anda bahwa perdebatan yang Anda lakoni secara batil, dan atasan-atasan yang telah mengindoktrinasi Anda untuk melakukan debat ini, sekali-kali tidak akan pernah berguna ketika suatu saat malaikat maut mendatangi Anda. Sekali-kali tidak akan pernah berguna,
tatkala nanti Anda menemui Allah pada Hari Kiamat kelak. Anda berada dalam front untuk menentang syariat Allah dan memusuhi agama-Nya. Semua rintangan yang kalian terapkan untuk menghalangi agama Allah, dan kekuatan yang kalian galang untuk menjegalnya, maka semua itu kelak akan jadi penyesalan bagi kalian. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Maa`idah: 36-37)
Saya mengajak Anda untuk memikirkan keadaan Anda dan keadaan kita semua. Kita ini, sebagaimana difirmankan Allah: “Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka,” (Al-Hajj: 19)
Kami dan kalian saling memusuhi dan bertengkar mengenai Allah. Kalian tidak mau berhukum dengan Syariat Allah, sedangkan kami ingin dan berjihad demi Syariat Allah. Kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan kaum Salibis yang menjajah negeri-negeri kami sebagai para pembela dan pelindung.
Sedangkan kami memerangi mereka, dan kalian malah memerangi kami yang sedang memerangi mereka. Kalian membunuhi kami yang tengah memerangi mereka. Kalian memenjarakan kami yang berjihad memerangi mereka. Kalian menganggap jihad tersebut sebagai tindak kriminal dan terorisme. Maka kami katakana kepada kalian; bertakwalah kepada Allah. Haramkanlah riba, minuman keras, perzinaan. Kalian malah menolak hal demikian, serta mengizinkan, membolehkan, melestarikan, dan menetapkan UU untuk semua itu.
Renungkanlah, siapa di antara kita yang berjalan di atas kebenaran? Siapakah yang akan mendapatkan keridhaan Allah? Siapakah yang akan mendapatkan kemurkaan-Nya? Karena pasti hanya salah satu di antara kita yang berada di atas kebenaran, dan satu lagi berada di atas jalan batil. Allah berfirman, “maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32) Allah memerintahkan kami untuk berkata kepada kalian, “dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata,” (Saba`: 24) 
Pikirkanlan kondisi kalian dan kami. Pasti hanya salah satu di antara kita yang berjalan di atas petunjuk Allah, sedangkanlah satu yang lainnya terjebak dalam jurang kesesatan nyata. Apakah masuk akal jika pihak yang memerangi syariat dan petunjuk Allah, serta menentang agama dan hukum-hukum-Nya, akan mendapat petunjuk dari Allah?
Tapi apabila yang kalian inginkan hanyalah perdebatan, maka kami katakan kepada kalian, “Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui,” (Saba`: 26)

Abu Muhammad Al-Maqdisi
Sel No. 32
Penjara Direktorat Intelijen Umum Yordania, 1428 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar