Jumat, 20 Desember 2013

KESAKSIAN PEMANDI JENAZAH, MATINYA ORANG YANG MENONTON FILM PORNO



KESAKSIAN PEMANDI JENAZAH (2)
MATINYA ORANG YANG MENONTON FILM PORNO

Kisah ini wahai saudara, tentang seorang pemuda yang ditolak oleh ayahnya sendiri untuk dishalatkan setelah melaksanakan shalat fardhu berjamaah di masjid. Anda bisa membayangkan wahai saudara, seorang ayah menolak menshalatkan anaknya setelah shalat fardhu, yaitu setelah shalat subuh. Padahal kebanyakan orang tentu ingin menshalatkan jenazah setelah shalat fardhu, bahkan mengutamakan memilih masjid yang besar, karena banyaknya jamaah yang shalat agar si mayat mendapatkan banyak pahala dan doa dari mereka.
                Jadi bagaimana kisah pemuda ini? Pada suatu sore, ketika saya sedang bekerja, hp-ku berbunyi. Orang yang menelpon lalu berkata kepadaku, “Anakku meninggal di rumah kami pak. Saya ingin engkau datang untuk mengurusnya agar kita menshalatkannya dan menguburkannya!” pintanya.
“Beri aku alamat lengkapnya!” jawabku.
                Anda tahu wahai saudara, jika terjadi kematian di setiap daerah maka jalan raya di daerah itu tidak tenang, semua tetangga mendatangi rumah orang yang meninggal untuk berada disamping keluarganya agar dapat meringankan beban dan kesedihan mereka. Aku kemudian pergi ke alamat tersebut. Aku menghubungi ayah pemuda itu dan aku berkata, “Saya berada di alamat yang dimaksud, tetapi tidak ada orang.”
                Dia memberitahukan kepadaku bahwa dia akan turun menemuiku. Ternyata dia turun dari apartemen tempat aku berdiri di bawahnya. Aku lalu bertanya, “Dimana anakmu?”
                “Di balkon rumahku pak!” jawabnya.
                Ternyata ayah dari pemuda ini telah menyiapkan untuk anaknya apa yang diperlukan. Itu karena dia khawatir ada temannya dari luar yang ikut campur mengurusi jenazah anaknya. Ketika aku masuk, aku melihat pemuda itu yang ternyata masih berumur sembilan belas tahun dan terbentang di atas tempat tidur dalam keadaan tertutup. Aku membuka kain penutupnya, ternyata dia masih memakai baju olah raga. Aku dapatkan tangan kanannya diikat oleh perban putih dan darahnya mengalir di tangannya. Aku lalu bertanya kepada ayahnya tentang apa yang terjadi ?
                Dia menjawab, “Ada sebuah peristiwa yang terjadi!”
                “Mau dimandikan dan diurus di mana?” tanyaku.
                “Di balkon saja pak!. Ada tempat untuk mencuci pakaian dan aku sudah menyiapkan keperluannya untuk mandi dan kain kafannya!” jawab sang ayah.
                “Ambillah dan letakkan di sini bajunya!” pintaku.
Kebutuhan mandi dan kain kafan telah dipersiapkan. Aku berkata kepada mereka, “Ambil dan letakkan di sini di atas kayu pemandian seperti biasa!” Aku kemudian meletakkan tabir dan melepaskan pakaiannya. Aku membersihkan lubang anusnya dan mewudhukannya dengan wudhu shalat yang sempurna. Ketika aku mengangkat tangan kanannya untuk berwudhu aku menemukan tangannya diikat perban dan diatasnya terdapat bekas darah yang mengalir dari jarinya.
                Aku ingin melepas kain perban di lilitan tangannya, membersihkannya dari darah, dan menghentikan darah yang terus mengalir itu. Ternyata ayahnya berbisik kepadaku dan berkata, “Biarkan seperti itu pak!”
                Aku bertanya kepadanya, “Pak, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Tangannya mengucurkan darah. Biarkan saya yang membersihkan luka itu dan meletakkan di atas luka itu daun bidara untuk menghentikan darahnya, kemudian kita letakkan perekat di atasnya, lalu kita usap dengan air diatasnya. Namun ternyata ayahnya terus memohon kepadaku agar aku memandikannya dengan tidak melepaskan kain perban yang diikat di tangan kanannya.
                Ketika kami sedang berdiskusi seperti ini, tiba-tiba ibu pemuda itu masuk dari ruangan sebelah dengan wajahnya terbuka. Dia datang kepadaku dan ingin mencium kedua tanganku, lalu berkata, “Pak, tutuplah rahasia ini untuk anakku, semoga Allah menutupi rahasiamu. Kemudian ayah dari pemuda itu mengambil kain lalu menutupkan ke wajahnya dan mendorongnya masuk ke ruangan dimana dia keluar dan berkata kepadanya, “Bapak tidak tahu apa-apa tentang anak ini.”
                Wahai saudaraku, ucapan itu menunjukkan ada sesuatu yang dirahasiakan. Namun aku terus meminta untuk membuka kain perban itu dan membersihkan lukanya, sedangkan mereka terus meminta memandikannya dengan perban membalut tangannya, tanpa dibuka. Apa yang aku lakukan wahai saudara? Ketika aku mewudhukan aku merasakan beratnya air di atas tangannya, karena perban itu telah menyerap air. Aku membiarkannya, dan aku tetap di kayu pemandian dan mengeluarkan sesuatu dari tangannya yang jatuh di tanah. Aku melihat ke tangan kanannya. Aku mendapatkannya penuh dengan darah, sedang tangan itu memegang sesuatu yang berwarna hitam. Apa yang kau temukan wahai saudara? Apakah sesuatu ini wahai saudara?
                Sesuatu ini ternyata potongan dari remot kontrol untuk merubah canel televisi. Pemuda itu memegang remot itu di tangan kanannya. Ayah dan saudaranya berusaha mengeluarkan sesuatu itu dari tangannya, tetapi tidak bisa, kecuali dengan menghancurkan satu atau dua jarinya agar bisa mengeluarkannya. Mereka lalu menghancurkan tulang jari mayat itu seperti hancurnya tulang dalam keadaan dia hidup. Mereka membawa gergaji besi kecil kemudian memotong remot itu dari atas dan berusaha menyebarkan bagian yang lebih besar darinya sehingga tidak nampak bekasnya. Mereka lalu melukai tangannya dari atas sampai ke bawah, dan tinggallah potongan yang tersisa di tangannya, tetapi mereka tidak tetap bisa mengeluarkan remot itu dari genggamannya. Aku berkata kepada ayahnya, “Apa yang terjadi kepadanya dan bagaimana itu bisa terjadi?”
                Ayahnya berkata, “Kita urus dan shalatkan dia, kemudian kita kuburkan. Nanti aku akan memberitahu apa yang telah terjadi.”
                “Tidak, anda harus memberitahukan kepadaku sekarang!” pintaku.
                Ayahnya lalu berkata, “Tadi malam, kami semua  sedang makan malam. Kami duduk di hadapan hidangan makan malam, lalu anakku masuk dengan cepat ke rumah dan menuju kamarnya. Aku memanggilnya, “Wahai fulan, mari kita makan malam bersama-sama! Fulan, kemarilah bersama kita semua!”
                Namun dia menjawab, “Aku tidak lapar sekarang. Antarkan saja makan malam untukku pembantu!” Setelah jam dua belas malam, pembantunya naik membawa makanan sebagaimana yang diminta oleh pemuda itu. Ketika pembantunya mengetok pintu agar dia makan malam, ternyata dia tidak menjawab suara ketokan pintu dari sang pembantu. Maka dia pun memanggil namanya, tetapi sang pemuda tidak menjawab juga. Yang terdengar hanya suara televisi dari kamarnya. Pembantu itu langsung turun dengan cepat dan mendatangi kedua orang tuanya, lalu memberitahukan kepada mereka apa yang terjadi.
                Ayah bersama dengan anak-anaknya kemudian naik dan melakukan apa yang dilakukan pembantu, tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Di balkon ada jendela kaca yang membuat kami bisa melihatnya. Kami menemukannya berbaring di atas tempat tidur, dan kami berusaha lagi memanggilnya, tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Maka kami mendobrak pintu itu dan masuk ke dalam kamar. Kami menemukannya sudah meninggal dunia pada saat dia menonton televisi. Tetapi apa yang ditonton sebelum dia meninggal? Malaikat maut datang mengambil rohnya ketika dia sedang menonton film porno. Dia yakin, bahwa dengan menutup pintu tidak akan dilihat orang. Dia lupa, bahwa Allah melihatnya. Malaikat kemudian datang ketika dia sedang melihat apa yang diharamkan Allah. Lihatlah wahai saudara bagaimana akhir hayat pemuda ini.
                Aku memandikan dan mengkafaninya, sedang tangannya memegang sisa remot kontrol, ini bukan kejadian yang pertama. Salah seorang Syaikh pernah menceritakan, bahwa beliau menemukan mayat yang tangannya sedang memegang erat remot kontrol. Ketika sedang khutbah di salah satu masjid yang terkenal,  seorang imam menyebutkan, bahwa dia pernah memandikan mayat yang tangannya sedang memegang erat sebungkus rokok. Dia berusaha mengeluarkannya dengan susah payah, dengan cara merendamnya ke dalam air, lalu memasukkan benda keras untuk mengeluarkan rokok itu, sampai bungkus rokok itu keluar dari tangannya. Tetapi jari-jemarinya terlipat dengan kuat di telapak tangannya.
                Setelah aku selesai mengurusnya, aku menoleh ke belakang. Aku melihat ayah dan saudara-saudaranya berbisik-bisik. Aku berkata kepada mereka, “Ada apa? Mari kita bawa dan letakkan di mobil agar kita pergi dan menshalatkannya setelah shalat subuh. Masih banyak waktu sebelum adzan subuh.”
                “Pak, aku tidak ingin menshalatkan anakku sekarang!” kata sang ayah.
“Mengapa pak?” tanyaku.
“Cukup pak! Dia sudah melakukan kejahatan di dunia ini, bagaimana nanti di akhirat?” jawabnya.
Aku berkata, “Wahai saudaraku, bertaqwalah kepada Allah ! kamu tidak sayang kepadanya melebihi kasih sayang Allah. Berdo’alah kepada Allah, semoga Allah menyayangi anakmu dan mengampuninya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Biarkan kami menshalatkannya di masjid, semoga ada orang yang ikut menshalatkan dan mengangkat tangannya kepada Allah, lalu berdo‘a untuk anakmu agar Allah memberi rahmat dan ampunan kepadanya, kemudian Allah mengabulkannya.”
Tetapi ayahnya menolak. Usahaku tidak berhasil. Aku menoleh ke pamannya, dan dia diam. Demikian juga saudaranya. Semuanya sefakat seperti ayahnya. Maka aku pulang dari rumah itu. Aku gelisah dan heran apa yang telah terjadi. Ayahnya lalu datang kepadaku dan berkata, “Kami akan menshalatkannya pak, tetapi bukan setelah shalat fardhu.” Aku berkata, “Saya tidak bisa membawa anakmu ke kuburan saat ini, kecuali jika engkau mau menshalatkannya setelah shalat fardhu. Sebagaimana yang kita ketahui wahai saudara, bahwa shalat jenazah kapan saja diperbolehkan, tetapi lebih diutamakan setelah shalat fardhu karena banyaknya orang yang akan menshalatkannya.
Aku lalu meninggalkan mereka  dan pergi ke tempat kerjaku. Keesokan harinya sekitar jam sembilan pagi, mereka membawa jenazah dan meletakkannya di mobil jip, kemudian pergi ke salah satu pekuburan. Mereka menshalatkannya bersama orang yang menemaninya dan para penjaga kuburan. Pemuda ini dikuburkan dengan remot kontrol di tangannya. La haula wala quwwata illabillah. Aku memohon kepada Allah semoga aku dan anda semua mendapatkan karunia husnul khatimah di dunia dan akhirat.

o0=0o

4 Kali Hadapi Siksa Sakaratul Maut



4 Kali Hadapi Siksa Sakaratul Maut (Disadur dari : Majalah Hidayah, Rubrik kisah nyata, Edisi Februari 2002)
W ritten By Baginda Ery on Minggu, 14 April 2013 | 19.33 
 

Sakratul maut merupakan sebuah peristiwa luar biasa berat yang dihadapi oleh setiap manusia. Biasanya, keadaan sakratul maut yang dihadapi oleh seseorang ditentukan oleh amal perbuatannya selama hidup di dunia. Bagi orang-orang yang hidupnya penuh dengan maksiat, dapat dipastikan orang tersebut akan menghadapi sakratul maut dengan berat dan
menyakitkan. Tetapi, bagi orang yang selama hidupnya taat beribadah kepada Allah swt, insya Allah sakaratul maut yang dihadapinya lebih ringan.
Cerita ini merupakan kisah nyata yang saya dapatkan dari seorang kawan saya yang bekerja di rumah sakit di Jawa Timur, Ia bernama Abdul Ghofur. Di rumah sakit tersebut Ghofur bekerja sebagai pembimbing rohani yang bertugas memberikan bimbingan agama Islam kepada para pasien. Salah satu tugasnya adalah menemani dan membimbing orang-orang yang sedang mengalami sakratul maut.
Menurut ceritanya, ini merupakan pengalaman unik satu-satunya yang pernah ia temui selama dua tahun bertugas membimbing orang-orang sakit dan orang-orang yang sedang mengalami sakratul maut. Ghofur meminta kepada penulis untuk mengganti nama pasien dan merahasiakan nama daerah kejadian.
Pada suatu pagi di tahun 1999 yang lalu, seperti biasa, Ghofur pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja. Rupanya, hari itu datang seorang pasien baru, yang bernama Romi. Pasien tersebut menderita penyakit Leukimia yang sudah parah. Menurut keluarganya, sebelum dibawa kerumah sakit, Romi sudah satu bulan dirawat di rumahnya. Karena semangkin hari sakit yang dideritanya semakin parah, para tetangga memberikannya saran kepada keluarganya agar secepatnya membawa Romi ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Romi langsung dirawat di ruang ICU, tubuhnya yang besar tampak pucat dan lemah, tetapi sorot matanya seolah tidak mau diam. Di hidungnya terpasang pipa oksigen, dan tangannya terpasang pipa infus.
Seperti para pasien lainnya, beberapa jam setelah Ia masuk rumah sakit dan mendapatkan perawatan secukupnya dari para dokter, Romi mendapat bimbingan agama Islam dari rumah sakit itu. Kebetulan Ghofur lah yang mendapatkan tugas membimbing laki-laki yang bertubuh besar itu. Ketika pertama kali Ghofur mendatangi Romi. Romi sudah menunjukkan sikap
yang kurang bersahabat, tidak seperti pasien lain yang selalu merasa senang didatangi petugas rumah sakit. Ghofur sempat merasa sedikit takut melihat wajah pasien yang tidak sedikitpun memberikan senyum kepadanya. Apa lagi ketika Ghofur melihat sekujur tubuh lelaki itu dipenuhi dengan berbagai gambar tato. Sisa-sisa bekas tato yang keras dan besarpun masih sedikit tampak pada tubuh itu, seolah memberi isyarat siapa laki-laki itu sebenarnya.
Setelah mengucapkan salam dan memperkenalkan diri, Ghofur pun mulai memberikan bimbingan agama Islam kepada Romi. “Sebagai sesama muslim saya hanya mengingatkan, banyak-banyaklah berdo’a, sebab semua penyakit itu datangnya dari Allah, sehingga hanya Allahlah yang mampu mencabut kembali. Jangan lupa pula beristighfar. Kita sebagai manusia tentu tidak luput dari segala dosa dan kesalahan. Mudah-mudahan saja dengan istighfar Allah mau mengampuni dosa-dosa yang pernah kita perbuat,” ucap Ghofur mencoba memulai memberikan bimbingan keagamaannya. “Sudah mas? Kamu itu emangnya siapa ? Saudara saya bukan, tetanggapun bukan, berani benar menasehati saya!” ujar Romi kesal.
Ghofur terkejut mendengar sambutan yang tidak bersahabat dari pasien baru itu, ia tidak menyangka seorang pasien yang terkulai lemah tanpa daya masih menunjukkan kesombongannya di hadapan orang lain, terlebih dihadapan orang yang berniat membantu memberikan bimbingan keagamaan kepadanya. “Saya hanya hamba Allah yang kebetulan di tugaskan memberikan bimbingan keagamaan kepada setiap pasien yang beragama Islam. Saya hanya menginginkan setiap pasien merasa tentram dan nyaman hatinya meskipun sedang sakit,” Jawab Ghofur merendah.
“Mana ada orang sakit yang tenteram dan nyaman, kalau orang macam begitu ‘sok memberikan nasehat seperti itu. Kalau kamu mau berkhotbah di masjid, jangan bawa-bawa khotbah kesini!”. Ujar Romi dengan marahnya. Ghofur tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia hanya dapat bersabar sambil tidak berhenti-hentinya mengucapkan istighfar dalam hati.
“Baiklah kalau anda merasa terganggu dengan kehadiran saya, saya minta maaf. Saya hanya bisa mendo’akan semoga anda lekas embuh”, ucap Ghofur mengakhiri percakapan diantara mereka. Ghofurpun berlalu meninggalkan lelaki yang tampak masih kesal itu.
Rupanya sakit yang diderita oleh Romi terbilang sudah sangat parah, sehingga peluang untuk sembuh sangat kecil. Bahkan, satu minggu setelah kedatangannya di rumah sakit, sakit Romi akhirnya tidak bisa ditolong lagi. Pada siang yang panas itu, Romi harus berjuang menghadapi pedih dan sakitnya sakratul maut.
Beberapa perawat (suster) dan keluarga Romi ikut membantu menemani Romi menghadapi sakratul maut. Tidak ketinggalan, Ghofur juga di tugaskan membimbing lelaki itu mengajarkan kalimat-kaliamat talkin, agar sakratul maut yang dihadapinya bisa lebih mudah. “Laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah…,” bisik Ghofur berulang-ulang
ditelinga Romi. Para perawat dan keluarga Romi ikut membimbing Romi mengucapkan talkin.
Romi tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya mengerang menahan sakit dengan membuka mulut lebar-lebar, seolah menjerit kesakitan. Begitupula matanya membelalak terbuka lebar, seperti orang yang sangat ketakutan.
“Nyebut-nyebut, Rom. Nyebuut!” Ujar ibunya meminta anaknya menyebut kalimat-kalimat talkin. “Laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah…” Ghofur terus membisikkan talkin di telinga Romi. Meskipun orang di sekeliling Romi terus berusaha mengajarinya mengucapkan talkin, tetapi Romi tetap saja tidak mampu mengucapkannya. Dari mulutnya hanya terdengar erangan-erangan berat menahan rasa sakit yang amat sangat.
Waktu terus berlalu, setelah beberapa jam menahan pedihnya sakratul maut, akhirnya Romi menghembuskan nafas terakhirnya, dengan erangan panjang yang sangat memiriskan hati orang-orang yang melihat dan mendengarnya.
“hhhrrrrrrggggggghhhhh….!” Suara enrangan panjang dari suara Romi. “Alhamdulillah…” Ucap Ghofur dan para perawat menunjukkan rasa syukur atas berakhirnya penderitaan yang dialami Romi dalam menghadapi sakratul maut.
Ghofur segera mengusap wajah Romi untuk menutup matanya yang masih terbelalak lebar. Para perawatpun mulai sibuk membuka pipa oksigen yang terpasang di hidungnya dan pipa infus yang terpasang di tangnnya. Semua orang yang hadir di ruangan itu yakin kalau Romi memang sudah meninggal.
Setelah semua peralatan yang semula terpasang di tubuh Romi di lepas para perawat segera meninggalkan ruangan. Sementra itu Ghofur segera menutup jasad Romi dengan kain putih, menunggu ambulan yang akan membawanya setelah keluarga Romi mengurusi semua biaya perawatan Romi di rumah sakit tersebut.
Kira-kira sepuluh menit setelah melepas nafas terakhirnya, tiba-tiba tubuh Romi yang tertutup kain putih itu bergerak-gerak kembali. Ghofur dan keluarga Romi yang kebetulan masih berada di ruang itu terkejut bukan kepalang.
Ghafur setelah mendatangi tubuh yang dikiranya sudah mati itu. Ia membuka kain putih penutup tubuh Romi yang kesakitan menahan pedihnya sakratul maut pertama tadi. Ghafur terheran-heran, sebab ia yakin tadi Romi benar-benar sudah meninggal.
Pengalamannya selama ini dalam membimbing orang sekarat telah membuatnya hapal benar, bagaimana keadaan orang yang melepaskan nafas terakhirnya dan mati. Tetapi kini keajaiban telah terjadi di depan matanya.
Ghafur segera memanggil para perawat dengan menekan tombol yang ada di dinding ruang itu. “Dia hidup lagi,” Kata Ghafur kepada para perawat yang tergesa-gesa masuk ruangan. Para perawat segera memasangkan kembali pipa infus dan oksigen ke tangan dan ke mulut Romi. Ghafur kembali membimbing Romi dengan membisikkan kalimat Talkin ke telinga lelaki yang kesakitan itu.
“Laa illaha illallah, laa ilaaha illallah…” bisik Ghafur berulang-ulang. Keluarga Romi pun ikut membantu membimbing mengucapkan kalimat-kalimat talkin. Akan tetapi, Romi tetap saja tidak mampu mengucapkannya. Ia hanya terus mengerang, menahan rasa pedih yang sungguh menyakitkan. Mata dan mulutnya terbuka lebar.
Ibu Romi tidak dapat menahan tangisnya menyaksikan anaknya menderita kesakitan menghadapi sakratul maut. Wanita itu menatap anaknya dengan tatapan sayu sambil sekali-kali menyeka air mata yang terus merembes di sudut matanya.
“Hhhhrrrgggrgrggggghhhhh…” Orang yang hadir di ruangan itu merasa lega melihat Romi mengakhiri penderitaan sakratul mautnya. Ghofur dan para perawat memeriksa dengan teliti tubuh Romi untuk memastikan keadaan Romi yang sebenarnya. Ternyata secara medis Romi memang sudah tidak bernyawa. Tetapi para perawat tidak mau mencabut dulu pipa infus dan oksigen yang menempel di tubuh Romi, karena khawatir kalau-kalau kejadian seperti tadi terulang lagi.
Akhirnya jasad Romi dibiarkan beberapa saat di tempat tidurnya. Kurang lebih sepuluh menit kemudian, jasad itu bergerak-gerak kembali, seolah-olah ada ruh baru yang dimasukkan kembali ke jasad yang sudah meninggal itu. Orang-orang yang hadir di ruangan itu segera mengerumuni jasad Romi lagi, mereka kembali membimbing Romi yang kesakitan. Setelah lebih dari dua jam, Jasad Romi baru bisa menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ghofur dan para perawat kembali memeriksa kondisi jasad Romi, Setelah memastikan jasad itu sudah meninggal, mereka membiarkan lagi jasad itu tergeletak di atas tempat tidurnya. Mereka tetap khawatir kalau-kalau jasad itu bergerak kembali.
Ternyata dugaan mereka benar. Setelah sepuluh menit dibiarkan, lagi-lagi jasad Romi bergerak dan mulutnya mengerang kesakitan. Persis kejadian sebelumnya, orang-orang di sekitar ruangan itu berusaha membimbing Romi, tapi Romi tetap saja menahan kesakitan. Dua jam kemudian Romi benar-benar menghembuskan nafasnya yang terakhir, setelah empat kali merasakan pedihnya sakratul maut.
Jasad Romipun dibiarkan di tempat tidurnya, mereka khawatir kalau-kalau jasad Romi kembali bergerak. Tetapi setelah berjam-jam dibiarkan dan tidak bergerak kembali, para perawat segera mencabut pipa infus dan oksigen dari tangan dan mulut Romi.
Ghofur yang sudah berpengalaman menangani orang-orang yang sedang sakratul maut, yakin kalau kejadian yang baru saja disaksikan merupakan kehendak Allah atas perbuatan yang dilakukan Romi selama masa hidupnya. Ghofur tahu, biasanya keadaan sakratul maut seseorang menjadi cermin dari perbuatan semasa hidup. Karena itu Ghofur ingin sekali mengetahui
bagaimana kehidupan Romi semasa hidupnya.
Sebelum keluarga Romi membawa jasad Romi pulang ke rumahnya, Ghofur sempat mendatangi keluarga Romi. Kepada mereka Ghofur terus terang bertanya apa yang telah dilakukan oleh Romi sehingga ia harus mengalami penderitaan yang begitu berat dalam menghadapi sakratul maut.
Kepada Ghofur akhirnya salah seorang keluarga Romi menceritakan bahwa anaknya selama hidupnya penuh dengan perbuatan maksiat. Setiap hari anaknya mencari uang dengan cara memaksa orang-orang di pasar untuk memberikan uang kepadanya. Hampir semua orang di pasar takut kepadanya. Selain itu juga anaknya suka berjudi dan mabuk-mabukan. Setiap malam, anaknya menghabiskan waktunya di meja judi ilegal di belakang pasar, dan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat.
Dari cerita yang diungkapkan oleh keluarga Romi itulah kini Ghofur tahu apa yang selama hidupnya dikerjakan oleh Romi. Maka tidak heran jika ketika menghadapi sakratul maut, ia merasakan kepedihan yang amat sangat, karena harus merasakan ruhnya dicabut sebanyak empat kali. Semoga kisah tersebut memberikan iktibar atau pelajaran bagi kita semua. Amien.

Disandur dari : Majalah Hidayah, Rubrik kisah nyata, Edisi Februari 2002
Anda Ingin menjadi Da’i Sejuta E-mail? Tolong anda kirimkan artikel ini kepada sesama Muslim, baik keluarga, sahabat, dan siapa saja yang anda kenal atau silahkan cetak untuk bacaan keluarga di rumah.

sumber: http://bacailmumanga.wordpress.com/2012/02/06/4-kali-hadapi-siksa-sakaratul-maut/