Minggu, 21 September 2014

Ustadz Lotfi Ariffin rahimahullah, tabir mimpi sang syuhada' Malaysia tertunai sudah




Ustadz Lotfi Ariffin rahimahullah
Banyak Muslim ingin syahid di jalan Allah, bahkan memimpi-mimpikan ingin bersanding dengan bidadari bermata jeli di Jannah nanti. Namun perlu Anda tahu bahwa hanya ada satu ikhwah kita yang benar-benar memimpikannya hingga empat kali berturut-turut hingga kesyahidan benar-benar menyambutnya sesuai bunga tidurnya yang suci. Berikut tinta sejarah yang dapat kita resapi sebagai mutiara hikmah tentang indahnya syahid dan tunainya janji melihat cantik jelitanya bidadari surgawi. Bismillah.

Sebagaimana dikisahkan Akhi Ibnu Shah, berperan sebagai aktor sejarah, Asy-syahid Ustadz Lotfi Ariffin rahimahullah dikenal sebagai ulama berjiwa Mujahidin, sebagaimana pendahulunya, Asy-syahid Asy-Syeikhul Jihad Abdullah Yusuf Azzam (rahimahullah). Setelah beliau mendalami ilmu agama di Universitas di Pakistan hingga peringkat Master, akhirnya ia berjihad bersama Mujahidin Afghanistan menentang komunis Soviet USSR.
Dalam episode jihad di Negeri Beruang Merah, ia bersama Mujahidin Tajik melawan penjajahan Russia terhadap Tajikistan. Setibanya di tanah airnya, Malaysia, ia pun berperan sebagai kesatria pena melalui wadah politik demokrasi bersama Pemuda PAS dan Dewan Ulama PAS (Parti Islam Se-Malaysia).
 

Manuvernya dalam mengusung Islam menyampaikannya ke jeruji ISA (internal security act) di awal tahun 2000-an di Malaysia bersama sahabat karibnya ustadz Abu Jibriel Abdurrahman yang kini berada di Indonesia. Namun, jiwanya yang bebas menjadikannya mampu berjihad dengan kata dan menghasilkan 4 buah buku termasuk buku ‘Siasah Syarriyyah’. Beliau meletakkan jabatannya dari PAS pada Mei 2014.
Semangatnya tak pernah padam, ia memilih berperan dalam menumpas fitnah kaum syi’ah dan memutuskan untuk berjihad di bumi Suriah untuk melawan rezim Bashar Al-Assad. Dengan bijaksana, beliau berdekap ukhuwah dalam barisan jihad Ajnad Asy-Syam yang netral dan tak terlibat fitnah perpecahan antara FSA v.s. Daulah (IS) serta mengambil jalan tengah dalam isu ini.
Sebelumnya, Ustadz Lotfi sempat mencari syahid di Afghanistan dan di Tajikistan pada rentang waktu 1980-an hingga 1990-an. Biidznillah, setelah hampir 3 dekade (1980-an/ 1990-an/ 2000-an – 2014) asy-syahid telah berjihad dengan mengangkat senjata, menoreh pena dan menjemput kesyahidan yang dirinduinya di Bumi Indah Syam (baca: Suriah), bumi pilihan bagi insan-insan yang terpilih. Semoga Allah menerima jual beli beliau. 
Memimpikan lezatnya minum dari sungai madu dan jumpa bidadari
Pernah suatu ketika, Asy-Syahid berbincang mengenai mimpinya kepada Ustadz Mokhtar Senik, sang sahabat. Ustadz Lotfi Ariffin mengatakan bahwa,
“Aku berkali-kali bermimpi yang sama, yaitu meminum air madu dari sebuah sungai. Setiap kali terbangun aku langsung merindukan mimpi tersebut, dan masyaAllah mimpi yang aku rindukan itu datang lagi pada malam harinya.
Begitu selalu terulang tiga kali….
Tapi pada suatu malam, mimpinya agak berbeda, sebab tidak aku temukan sungai rasa madu itu biarpun telah kucari kemana-mana. Hingga tiba-tiba berjumpa lah aku dengan seorang gadis yang sangat cantik dan sangat sopan.
Dia bertanya padaku, “Apa yang kau cari ?”
Aku jawab, “Aku mencari sungai madu yang telah tiga kali aku minum sebelum ini.”
Gadis itu tersenyum dan berkata, :”Wahai saudaraku, kalau kau ingin meminumnya lagi, datanglah ke Suriah. Disana pula aku akan menunggumu.”
Maasyaa Allah. Mimpi tersebut dialami oleh Asy-Syahid hingga empat kali.
Inikah tabir mimpi yang dapat kita terjemahkan sebagai kiprahnya di medan jihad?
Beliau telah berjihad di Afghanistan melawan Uni Soviet. Kemudian di Tajikistan ia melawan Rusia. Pun kemudian ia ditahan 6 tahun dalam penjara Malaysia karena jihadnya tersebut. Allahu Akbar.
Pada kali keempat dalam jihadnya di Suriah, beliau sungguh-sungguh menemui tunainya mimpi menemukan sungai rasa madu yang dirindukannya itu untuk ke empat kalinya. Tunai pula kabar langit dari Allah, dengan syahdu mesra ia temui sang gadis, yang ternyata adalah bidadari Surga nan indah tiada tara.