Jumat, 13 Desember 2013

Bag 3. Mendapat Hidayah Allah



BAB V TANTANGAN
                Setelah Saya masuk islam banyak sekali mendapat tantangan dan hinaan, baik dari orang islam sendiri maupun non islam. Bahkan saya pernah difitnah dengan surat-surat kaleng / tidak bertanggung jawab. Didalam surat kaleng itu mengatakan : “orang yang bernama Sabran Qamarudin jangan dipercaya, dia hanya mengadu domba antara islam dan kristen,”. Yang kedua mereka mengatakan : “Jangan percaya bahwa ia mengaku dirinya Nabi Muhammad.” Itulah fitnahan dari surat kaleng itu. Namun orang islam sendiri tidak percaya kalau saya sebagai pengadu domba dan mengaku sebagai Nabi karena mendengar cerita dan ceramah saya. Saya bukan mengaku Nabi akan tetapi saya mendapat hidayah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW di dalam mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
                Maka dari itulah saya mengatakan dalam ceramah saya bahwa jangankan zaman sekarang, zaman Nabi dahulu banyak orang yang tidak percaya waktu beliau di Isra‘Mi‘rajkan bahkan pada waktu itu ada orang kafir yang tidak percaya termasuk paman beliau sendiri yaitu Abu Jahal dan Abu Lahab. Zaman sekarangpun banyak Abu-Abu yang tidak percaya, begitu juga orang-orang kafir yang percaya bahkan mereka pindah agama dan masuk agama islam. Yang beriman semakin kuat imannya dan yang kafir semakin menjadi kafirnya.
                Orang islam yang pertama mantap imannya tentang Isra Miraj adalah Abu Bakar Siddiq sebagai sahabat Nabi. Abu Bakar mengatakan : ini bukan maunya Nabi akan tetapi ini maunya Allah SWT, sebab Nabi dijalankan oleh Allah, Cuma ada bedanya kalau Nabi di isra Mirajkan langsung tubuh beliau sendiri yang dijalankan di bawa oleh Malaikat Jibril AS.
                Namun bedanya dengan saya melalui sakit terlebih dahulu, roh saya yang dijalankan dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Demikianlah para pembaca yang dirahmati Allah, riwayat hidup saya ini saya tulis dengan sesungguhnya. Mudah-mudahan para pembaca dapat mengambil manfaatnya, yang baik datangnya dari Allah, sedangkan yang salah itu dari saya sendiri.
                Oleh karena itu saya sebagai manusia biasa yang tidak terlepas daripada kekhilafan dan kesalahan, maka dari itu saya mohon kepada Bapak/Ibu/Saudara/pembaca kalau didalam penyampaian ini ada kata-kata saya yang kurang menyenangkan hati para pembaca, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena memang demikianlah yang saya saksikan di dalam mendapat hidayah dari Allah SWT.
BAB VI.
DIALOG DENGAN PASTOR
                Pada tanggal 1 Januari 1995 saya pernah berdialog dengan seorang Pastor di Putussibau. Waktu itu saya baru pulang dari ceramah kurang lebih 32 hari nonstop, sampai di rumah saya menerima surat yang isinya :”harap dengan segera menghadap saya ke Putussibau, sekian dari saya Pastor.”
                Selesai membacanya saya langsung memanggil tukang ojek, dia bertanya  “Pak Ustadz mau kemana...?” Saya bilang “mau ke gereja” Tukang ojeknya heran kenapa pak Ustadz mau ke gereja. Saya jawab “ada keperluan dengan Bapak Pastor.
                Sampai di rumah Pastor saya bilang “selamat pagi pak !” dia menjawa “pagi, silahkan masuk”, dia menyuruh saya masuk. Sampai di dalam saya duduk dan saya ambilkan surat tadi lalu saya tanyakan, “apa betul surat ini dari Bapak Pastor?” Dia menjawab “betul”. “Ada apa Bapak mengundang saya ke sini, Bapak kan tahu bahwa saya sudah masuk agama islam”.
                Islam punya semboyan : musuh jangan di cari, ada musuh jangan lari. “Kalau memang Bapak mau bermusuhan dengan saya silahkan, sebab islam tidak mencari musuh”. Akhirnya Bapak Pastor mengatakan “kami mengundang kamu ke sini bukannya mengajak kamu berkelahi akan tetapi mengajak kamu bermusyawarah, sebab saya kasihan pada mu” Kata pak Pastor “dengan kamu ceramah dakwah kemana-mana tidak ada orang yang menggaji kamu, agama baik semua” kata Pak Pastor “ tapi sayang kita tidak bisa makan agama, islam baik ajarannya, katolik baik ajarannya, Protestan baik ajarannya, Hindu dan Budha baik ajarannya, tetapi kalau kita mau belanja harus pakai duit, tidak ada orang yang mau menerima agama sebagai tukaran untuk belanja” kata Pak Pastor.
                “Maka kami mengundang kamu ke sini, mulai hari ini kau harus kembali ke Kristen lagi karena walau bagaimanapun baiknya islam tidak ada yang mau menggaji kamu, mulai tanggal 1 Januari 1995 ini, kamu kami gaji enam ratus ribu rupiah per bulan dan kamu menggantikan saya menjadi Pastor di sini dan kau lihat kepala saya sudah putih, hanya kamulah yang saya harapkan menjadi Pastor di sini, itu ada mobil tiga (3) buah di halaman, kau pilih sendiri mana yang kamu mau untuk menyebarluaskan agama Katholik/ Nasrani”.
Memang saya diperlihatkan ada tiga mobil di halaman, saya tidak tahu apakah punya dia atau bukan. Kemudian saya bilang “kalau tadi pak Pastor bilang agama baik semua, itu menurut Bapak, kalau menurut saya, semua agama itu baik menurut pengikutnya masing-masing.” Dan menurut saya hanya Islamlah agama yang benar. Kalau agama Katholik tidak benar bagi saya sebab selama saya islam jalan lima tahun sampai tahun 1995 ini belum pernah saya ikut kalian sembahyang ke gereja, bapak juga begitu selama saya islam jalan lima tahun ini belum pernah saya melihat bapak Pastor ikut kami sembahyang ke Masjid karena bapak menganggap ajaran islam tidak benar bagi bapak.
                Mengapa Bapak mengatakan ajaran agama baik semua, kalau ajaran agama baik semua tentunya kalau orang kristen sembahyang ke gereja,  Kyai, ustadz dan orang islam tentunya ikut semua, ini ternyata tidak.
                Masalah agama itu benar semua hanya bagi penganutnya masing-masing. Kalau tadi bapak Pastor bilang saya mau digaji enam ratus ribu rupiah per bulan dan mau diberi mobil / rumah, saya bukan tidak mau jadi orang kaya, tapi saya tidak mau menjual agama dengan harta benda. Harta itu tidak berarti kalau tidak ada iman (kafir). Sebab orang kafir saya melihat jadi kayu bakar semua. Memang cita-cita saya mau jadi orang kaya supaya bisa menunaikan ibadah haji setelah masuk islam.
                Akhirnya Pak Pastor mengatakan “kalau begitu berarti kamu tidak mau kembali ke agamamu semula yaitu Kristen.” Saya mau tanya kata pak Pastor “berarti kamu sudah pintar di islam”, saya bilang “tanyalah apa yang mau bapak tanyakan, kalau saya bisa menjawab saya jawab, kalau tidak ya tidak”, Pak Pastor mengatakan “kalau kau tidak sanggup menjawab pertanyaan saya, percuma kau islam sudah beberapa tahun ini. Yang saya tanyakan apakah yang disembah orang islam kepala kebawah pantat keatas waktu sujud persis seperti babi yang mencari cacing”, saya mendengar begitu menjadi marah, “jangan begitu pak Pastor!, yang disembah kami orang islam adalah Allah SWT”. Bapak Pastor berkata “kalau Allah yang disembah orang islam, dimanakah Allah itu?” Saya katakan “Allah itu ada dimana-mana”,” wah...kalau begitu Tuhan Islam banyak, disana sini ada, percuma kau islam kalau Tuhan Islam itu banyak”. Saya menjawab “ tidak pak Pastor! Tuhan itu satu”, “kalau Tuhan itu satu” kata pak Pastor “tunjukkan dengan saya dimanakah Tuhan yang disembah orang islam dan Tuhan tinggal dimana, rumah Tuhan dimana?, biasa pakai baju bagaimana warnanya? Kalau kau tidak sanggup menjawab percuma kau sebagai orang islam”.
                Akhirnya saya termenung karena tidak pernah melihat Tuhan dan tidak tahu Tuhan biasa memakai baju apa, “jawaban saya begini saja pak Pastor!, saya bisa menjawab pertanyaan bapak, tapi bapak harus bisa menjawab pertanyaan saya, kalau bapak tidak bisa menjawab percuma bapak menjadi pastor beberapa puluh tahun, tetapi kalau bisa menjawab pertanyaan saya, hari ini juga saya akan kembali ke agama semula yaitu Kristen dan kalau bapak bisa menjawab detik ini, Tuhan saya bawa ke sini dan jam ini juga bapak saya ajak ke rumah Tuhan sebab dalam islam dikatakan Tuhan jauh tidak ada antara dekat tidak bersentuh, kenalilah dirimu rata-rata baru kau kenal Tuhan yang nyata, sebab Tuhan ada tapi tidak nampak, sekarang saya yang bertanya, saya tidak menanyakan Yohanes, Lukas, Matius dan Markus juga Yesus karena saya belum pernah ketemu dengan mereka itu, yang saya tanyakan ialah orang yang sedang berhadapan dengan saya sekarang ini yaitu bapak sendiri”. Pak Pastor termenung mengapa menanyakan dirinya. “ Begini pak ! baik islam maupun bukan islam sering mengatakan muka (wajah), seumpama muka si pulan begini....! muka si anu jelek, muka si anu cantik dan sebagainya.
                Akhirnya yang saya tanyakan dimana muka bapak, “sekarang kalau bapak tidak bisa menjawab percuma bapak menjadi Pastor yang sudah beberapa puluh tahun ini, kalau bapak bisa menjawab ini muka saya, detik ini juga saya masuk Kristen dan Tuhan saya bawa ke sini”. Jawab pak Pastor “mengapa menanyakan muka saya”, Pak Pastor mengusap mukanya “ya inilah muka saya”, saya membantah “itu haram bukan muka, dalam hadits Nabi tadinya saya katakan dengan bapak, kenalilah dirimu rata-rata baru kau kenal Tuhan yang nyata, berarti selama ini bapak tidak kenal dengan muka bapak sendiri”. Saya mengatakan satu persatu dari anggota muka itu ada namanya, yaitu :
1.       Ini Dahi
2.       Ini Bulu Alis
3.       Ini Mata
4.       Ini Hidung
5.       Ini Pipi
6.       Ini Mulut didalamnya ada gigi, lidah dan gusi
7.       Ini Dagu
8.       Ini Leher
9.       Ini Telinga
Mana muka bapak Pastor ? Pak Pastor menyatakan bahwa pertanyaan ini tidak masuk akal, tunjukkan muka bukan muka, bapak juga menanya begitu, menanyakan Tuhan dengan saya, sedangkan saya belum pernah ketemu dengan Tuhan.
                Akhirnya saya bilang kalau begitu saya mau permisi pulang, bapak tidak bisa menjawab pertanyaan saya dan saya tidak bisa menjawab pertanyaan bapak. Bapak tanyakan Tuhan dengan saya dan saya tanyakan muka dengan bapak dan bapak tidak bisa menjawabnya.
                Bapak Pastor bilang “o....ya...ya mana muka saya, aneh...ya  muka ada tapi tidak ada, tolong ajarkan dengan saya dimana muka saya sebab saya pernah membaca Al Qur‘an, tidak ada mengatakan muka dan saya sekolah/pendidikan sampai ke luar negeri belum pernah menemukan kitab yang mempelajari tentang muka”.
                “Berapa upah dan berapa hadiah asal kau ajarkan dengan saya tentang muka saya sendiri akan dibayar”, saya bilang “kalau bapak mau tahu tentang muka bapak, bisa saya ajarkan, sebab islam tidak pakai hadiah atau upah. Sekarang bapak harus masuk islam dengan mengucapkan dua kalimah Syahadat itulah upahnya.”
                Pak Pastor bilang “kalau begitu saya pikir-pikir dulu, berarti saya disuruh masuk agama islam”,  bapak Pastor masuk kedalam kamarnya dan keluar membawa uang sebanyak tiga ratus ribu rupiah, katanya “ ini uang saya berikan dengan kamu untuk menutupi malu saya tidak sanggup menjawab pertanyaan kamu, tolong jangan diceritakan dengan orang lain, malu saya tak sanggup menjawab pertanyaan kamu”. Sayapun pulang dari rumah pak Pastor dan uang itu saya ambil dan dibawa pulang kemudian saya tanyakan kepada Bapak H. Imam Supangat, BA lalu saya ceritakan uang tadi yang diberi Pak Pastor karena kalah debat, saya tanyakan “apa boleh dipakai atau tidak uang ini, kalau tidak, saya tidak berani memakainya.” Pak Imam bilang “ boleh tidak menjadi masalah, itukan pemberian”.
                Beberapa lama kemudian dalam proses merenungkan dua kalimah Syahadah, nyatalah bahwa Allah tidak memberikan hidayah kepada Pastor tersebut, lalu Pastor itupun meninggal dunia. Begitulah riwayat dialog dengan Pak Pastor, seandainya saya tidak melihat siksaan di dalam mendapatkan hidayah, saya sudah menjadi orang kaya, Karena kalau kaya menjadi orang kafir percuma, lebih baik hidup pas-pasan asalkan tetap dalam iman dan islam.
                Begitulah selama saya dalam islam ini menyebarluaskan apa yang saya lihat dalam mendapatkan hidayah dari Allah, yang mana saya disuruh Nabi untuk menyampaikan kepada umat islam. Karena Nabi mengatakan “sampaikan ajaranku kepada umat islam yang mau mendengarnya dan mempercayainya, jangan kau sampaikan kepada orang yang tidak percaya.
                Demikianlah riwayat hidup singkat ini saya tuliskan mudah-mudahan bisa ambil manfaatnya bagi kita dan juga bisa menambah iman dan taqwa kita ke hadirat Allah SWT, amiin yaa Rabbal  ‘alamin.
BAB VII
PENUTUP
                Dari uraian cerita di atas, kami buat dengan penuh keyakinan bahwa cerita itu sebenarnya pada dasarnya diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umat islam bagi yang percaya, semoga mendapat kekuatan iman, islam dan ikhsan. Bagi yang tidak percaya itu hak dari pembaca, sebab saya hanya sebagai hamba Allah yang lemah tentu banyak kelemahan atau kekurangannya.
                Sekali lagi koreksi / saran yang baik kami terima dengan senang hati semoga kita mendapat perlindungan Allah SWT. Demikian semoga bermanfaat bagi kita. Amiin.

                                                                                                     Wassalam Wr.Wb.

           SABRAN QAMARUDDIN               
                 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar